Organisasi Media tanpa Public Relation
Organisasi adalah satu
kata yang tak
asing bagi kita,
hampir setiap wilayah
memiliki organisasi, namun dibalik
kata yang tak
asing ini, kita
masih banyak yang
belum menyadari dan memahami eksitensi,
aktivitas, serta sruktur
dari organisasi. Tidak
dapat dipungkiri kurangnya
pemahaman tentang organisasi
akan membuat kita
salah menafsirkan segala
sesuatu yang berkaitan
dengan organisasi. untuk
menafsirkan segala sesuatu
yang berhubungan dengan
organisasi kita membutuhkan
sebuah pencerahan tentang
organisasi. penjelasan tentang
organisasi menghasilkan pemahaman
yang menyangkut ruang
lingkup eksistensi, aktivitas,
serta sturkur dalam
organisasi.
Memasuki era
baru, kondisi perkembangan
setiap wilayah semakin relative dan
complex termasuk dalam
organisasinya, semakin
komplexnya kehidupan dalam
suatu wilayah maka
semakin complex juga
standar organisasi yang dimiliki oleh
suatu wilayah. Aktivitas,
eksistensi, serta struktur
oragnisasinya akan sangat
tergambar detil keberadaanya.
Akvitas suatu organisasi
tak hanya terlepas
dalam bagian internal
saja melainkan sampai
kebagian eksternal, begitupun
dalam organisasi yang lebih spesifik yakni oranganisasi media.
Globalisasi telah menjadi
sebuah tantangan bagi
setiap organisasi yang
sedang beroperasi didalamnya.
Secara tidak langsung
memberikan peluang untuk
setiap organisasi agar
mampu tumbuh dan
berkembang sehingga memiliki
daya saing yang
begitu Nampak.Organisasi membutuhkan
tim hebat didalamnya,
tim yang mampu
merencanakan segala kelangsungan
organisasi diarena persaingan
global agar tidak
kalah bersaing dengan
organisasi pesaingnya.
Salah satu
factor suksesnya persaingan
dalam organisasi adalah
ketepatan strategi tim
kehumasan yang ada
didalamnya atau dalam
istilah asing Public
Relation atau PR. Pada artikel
ini akan membahas
secara khusus bagaimana
hubungan organisasi media dengan
PR, bagaiman peranan
PR dalam organisasi media serta
bagaiamana Sebuah Organisasi
media tanpa PR.
Organisasi mediadan Public
Relation
Era modern telah
menjadikan Public Relation
sebagai suatu focus
studi yang wajib
untuk dipelajari ketika
seorang berminat ingin
memiliki professionalitas dalam
bidang tersebut. diera
sebelumnya Public Relation
telah ada tetapi
hanya sekedar sebuah
aktivitas bukan suatu
profesi, dalam segi kehadiranyapun PR
belum terlalu banyak
dibutuhkan. Namun, seiring
banyaknya organisasi dalam
dunia globalisasi kehadiran
PR telah menjadi
suatu yang sangat dibutuhkan
oleh masing-masing organisasibegitupun dioraganisasi media.
Bahkan dalam satu organisasimediajika tak
memiliki PR didalamnya
maka segala system kinerja organisasimedia tidak akan berjalan
seindah memiliki PR
didalamnya.
organisasimediadan PR ibarat
manusia dan jantung.
Jika manusia tanpa jantung
maka system organ dalam
tubuh takkan berfungsi secara
baik. Dalam sebuah
organisasimedia yang sukses terdapat
kinerja PR yang
begitu aktif. Keaktifan
PR dalam organisasi media
tak hanya dihasilkan
oleh satu orang,
akan tetapi seluruh
kerja tim yang
terlibat. Untuk mengefektifkan kinerja
PR agar nantinya
mampu berfungsi sebagaimana
mestinya dibutuhkan keseriusan,
kedekatan emosional, serta keterbukaan
antara anggota tim
PR.
Dengan keterbukaan
yang terus menerus
diupayakan dan dengan
mencermati terjadinya intergrasi
antara public, akan
dapat meminmalisir ketegangan
dalam organisasi itu
sendiri (endogen) atau perubahaan
yang datang dari
luar (eksogin)[1]
Sebuah
tim yang
solid tak lahir
begitu saja melainkan
membutuhkan suatu usaha
untuk menciptakan rasa
persaudaraan yang harmonis
sehingga kinerja kelompok
berjalan seimbang. Perbedaan persepsi
pada seorang anggota tim
dapat merusak seluruh
kinerja tim, ibarat
nila setitik merusak
susu sebelanga. Sebagai
praktisi PR sangat penting
untuk membangun relasi
yang baik pada sesama anggota organisasimedia serta keluar
dengan public.
Relasi yang
baik akan terus
hidup jika antara
sesama anggota tim
dan kita dengan public
memiliki sikap percaya
antara satu sama
lain, akan tetapi
menghasilkan satu bentuk
kepercayaan kita membutuhkan
suatu proses.
Sikap percaya
berkembang apabila setiap
komunikan menganggap komunikan
lainnya berlaku jujur,
tentu saja sikap
ini dibentuk berdasarkan
pengalaman kita dengan komunikan.[2] Saya
bisa saja mempercayai
sepenuhnya anggota tim
karena kebaikannya dihari
kemarin, akan tetapi
tidak dengan anggota
lain. Saya bisa
saja percaya terhadap
salah seorang dosen
karena ia memberikan
nilai yang baik
kepada saya semester
lalu tapi tidak
dengan dosen lain.
Setiap
anggota yang tercakup
dalam PR haruslah
memiliki cara berfikir
yang luas, memiliki
banyak keahlian, serta
menerapkan kode etik
PR.
Menurut seorang
ahli PR yakni
Robert simoes cara
berfikir seorang PR
haruslah sbb[3] :
a.
PR merupakan
suatu proses/integrasi
b.
PR merupakan
fungsi manajemen
c.
PR merupakan
suatu kegiatan, kreativitas
d.
PR merupakan
suatu profesi
e.
PR merupakan
tugas dalam multisiplin
ilmu
Dari pandangan
Robert terlihat jelas
bahwa organisasimedia dan PR
tak dapat dipisahkan,
dengan hadirnya PR
organisasimedia dapat
menciptakan suatu proses
integritas baik integritas
keluar public maupun
kedalam organisasi media, PR pun
bekerja keras dalam
menajerial segala bentuk
kegiatan organisasi media, PR
sebagai pelaksana, PR
sebagai suatu hal
yang begitu tertata
rapi dengan kode
etik dalam profesi,
serta memiliki ilmu
yang multidisipliner.
Kehadiran PR
tak hanya sekedar
kebutuhan melainkan kewajiban.
Mengingat begitu besarnya peran
PR dalam satu
organisasi media. serta hancurnya
organisasimediajika tanpa
sosok PR.
Perkembangan dunia
modern telah memungkinkan
organisasi media beroperasi diberbagai
belahan dunia tanpa
harus membangun organisasi
media ditempat organisasi media itu
beroperasi. Tak lepas
dari itu fungsi
PRpun semakin meluas
komunikasinya serta aktivitasnya
secara global, dengan
canggihnya dunia elektonik
khususnya dalam bidang
komunikasi kinerja PR
takkan terbatas jarak
serta waktu untuk lebih
luas menerbangkan sayap
organisasi medianya.
Multifungsi PR
menjadi andalan bagi
setiap Organisasi media
dalam segala aktifitasnya
dari planning, organizing, actuating, controlling, serta evaluatingnya meskipun pada
dasarnya semua merupakan
aktifitas managerial tetapi semuanya
takkan berjalan sesuai
prosedur tanpa pantauan
serta kinerja PR.
Banyak yang
mengira bahwa PR
hanyalah kegitan-kegiatan yang
tampak, tetapi pada
kenyataannya kegiatan yang
tampak oleh public
justru hanya satu
tahap saja dari keseluruhan
kegiatan PR yang sebenarnya.[4]
Pemikiran diatas
menugaskan kita agar
senantiasa mensosialisasikan segala
perananPR.
sebagai instrument
untuk mengembangkan Organisasi media dan memantapkan
pososisinya dalam persaingan
yang lebih luas,
harapan itu tak
lepas kerja sama
antara pihak Manager
dan PR. Untuk pencapaian
hasil yang maksimal
kita membutuhkan suatu
pemikiran tentang strategi
organisasi media yang pada pembahasan ini masih mencakup strategi
oraganisasi secara umum.
Pemikiran strategi
organisasi dimulai oleh
seorang sosiolog Philiph
Selznik pada tahun
1957 yang dituliskan dalam
bukunya “leadership in administration” tulisan
yang melegenda ini
menekankan tanggung jawab
pemimpin untuk menerapkan
tujuan yang jelas
dalam mengoperasikan perusahaan,
mengarahkan internal state perusahaan,
dan memperhitungkan external expectation (harapan eksternal), agar implementasi struktur
kapabilitas dan program
bisnis berhasil mencapai
tujuan perusahaan.[5]
Dapat digambarkan
strategi Philip adalah
tak lepas memberikan
inovasi bagi seorang
PR agar dapat
berdiri tegak dibawah
pimpinan untuk menerapkan
kejelasan tujuan organisasi media yang mereka
naungi, mengarahkan arah
perjalanan organisasi media
yang mereka jalankan
sampai tempat tujuan,
kemudian mewujudkan segala
harapan yang organisasi media cita-citakan.
Kekuatan PR
akan mengubah tatanan
kehdupan organisasi media, baik
tatanan internal maupun
ekstenal. Organisasi-organisasi media
saat ini
tidak semuanya memanfaatkan
penuh kinerja PR, dibeberapa organisasi mediayang terbilang kecil PR
hanyalah sebuah formalitas. Tak jarang
jika kita saat
ini masih menjumpai
organisasi media yang
berjalan ditempat tak
ada kemajuan.
Baik organisasi media besar maupun
kecil kehadiran PR
menjadi satu kunci
utama keberhasilan organisasi
media, bersaing dalam
satu wilayah, dua
wilayah, maupun wilyah
luar yang ingin
kita Rajai. Strategi
memasangkan PR dan
organisasi media adalah
altenatif yang begitu
tepat sasaran dalam
menghadapi kondisi global
yang daya saingnya
begitu membludak dan
bergejolak. Organisasi media tidak cukup
mengkonsentrasikan pada satu
relung wilayah,satu organisasi media harus mampu
merajai lebih dari
satu wilyah dengan
dampingan PR.
Tugas pokok dan
fungsi PR dalam
Organisasi media
Untuk menjadi sebuah
oragnisasi media yang
tangkas dalam merespon kondisi yang
khalayak, organisasi media harus
sepenuhnya menaikan kualitas
PR didalam organisasinya, mampu memilih
tim PR yang
berlevel atas dan
profesional
Tim yang
professional tak hanya
mampu berperan baik dari segi
ilmu tetapi juga
segi praktek. Peran
PR dalam organisasi media bukan sekedar
wacana tapi juga
menguatkan ilmu tentang
Public Relation kita.
Jika sebelumnya sudah
diungkap beberapa hubungan
erat antara PR
dan organisasi media maka pada
sesi ini saatnya
membahas TUPOKSI PR
dalam organisasi media. hampir
semua organisasi media memiliki unit
PR. Unit ini dinilai
penting untuk menjaga
citra meida dan mengkomunikasikan pesan
kepada audient, investor
dan public. Persepsi
positif dimedia dapat meningkatkan
rating media yang berpengaruh untuk kenaikan harga pada pemasangan iklan
dimedia tersebut. Peran PR
dapat beragam namun
pada prinsipnya akan
terdiri dari lima
peran berikut[6] :
strategi pencitraan public, menjangkau kegiatan, hubungan antar media,
media social, mengelola
keadaan darurat.
a.
Strategi
pencitraan public
PR
berperan awal menyusun
strategi pencitraan positif
dalam satu media,
agar organisasi media yang
dijalankan bercitra positif
dimata khlayak public. Jika
seandainya citra organisasi tersebut telah rusak
sebelumnya maka tugas
PR untuk mengembalikkan citra
organisasi media tersebut.
b.
Menjangkau kegiatan
Profesionalitas PR
akan sangat terlihat
ketika menjalankan kegiatan
organisasi. mencari sponsor yang berhubungan
dan mengikut sertakan
dalam kegiatan organisasi.
c.
Hubungan antar media
Tugas utama
PR dalam media adalah mensosialisasikan segala
bentuk kegiatan, menyusun informasi,bekerja sama dengan
media lain agar organisasi media
kita bisa mudah untuk
melebarkan sayap.
d.
Media social
Penggunaan media
social yang telah
meluas menjadikan tugas
PR mudah dalam
meningkatkan dan memasarkan
segala kegiatan dan
kehadiran media. memunculkan ide
kreativitas baru dalam upaya pelebaran
telah sangat mudah
dengan hadirnya banyak
berbagai macam media
social : facebook, twitter,
instagram, youtube dan
sebagainya.
e.
Mengelola keadaan
darurat
Keadaan darurat
bisa saja muncul
dan hadir tanpa
sepengetahuan kita, bisa
lahir dari dalam
media maupun luar
media. peran PR
harus jeli dalam mengahdapi
situasi yang demikian
agar keberadaan PR
tak lagi dipertanyakan
keberadaanya.
Kelima refrensi
diatas akan sangat
relevan jika dijadikan
budaya penting PR dalam
organisasi media.
Lebih detil
peranan PR tak
hanya sebatas ruang
lingkup umum, terlihat adanya
peran PR dalam
organisasi media sebagai
alat manajemen.
Peranan umum
humas dalam manajemen
suatu organisasi itu
terlihat dengan adanya beberapa
aktifitas pokok kehumasan
yaitu [7];
-
Mengevaluasi sikap
atau opini public,
-
Mengidentifikasi kebijakan
& prosedur orgaanisasi/perusahaan dengan
kepentingan publiknya,
-
Merencanakan &
melaksanakan penggiatan aktivitas
Humas
mengevaluasi terlebih
dahulu sikap public
dan opini yang
telah mengontruksi persepsi
masyrakat kemudian mampu
merelevansikan kebijakan dalam mediaagar mampu
menciptakan keseimbangan prosedur
informasi pada mediadengan
kebutuhan khalayak public
jika sendainya semua
hal tersebut telah
terjalankan sesuai prosedur
maka sudah saatnya
untuk merencanakan dan
melaksanakan kegiatan PR
yang telah dirancang
bersama tim dalam
organisasi kemediaan.
dibeberapa organisasi media
tak memanfaatkan secara
penuh tugas PR. Dalam
kegiatan organisasi media
mereka lebih mengandalkan
marketing daripada PR, karena
tidak memahami manfaat
dan fungsinya atau
barangkali karena merasa cukup
dengan adanya bagian marketing
atau pemasaran; padahal kegiatan
marketing tertuju keluar
media, sedangkan kegiatan public relation selain
tertuju keluar media
juga kedalam media.[8]
PR harus berjalan sesuai fungsinya,
mengingat pisau ketajaman
sebuah organisasi adalah PR. Fungsi PR adalah
sebagai berikut[9]:
1.
Menunjang kegiatan
manajemen dalam mencapai
tujuan organisasi
2.
Menciptakan komunikasi
dua arah secara
timbal balik dengan menyebarkan
informasi dari perusahaan
kepada public dan
menyalurkan opini pada
perusahaan
3.
Melayani public
dan memberikan nasihat
kepada pemimpin organisasi untuk kepentingan
umum
4.
Membina hubungan
secara harmonis antara
organisasi dengan public,
baik internal maupun ekternal
Pada perspektif
selanjutnya memberikan deskripsi beberapa fungsi PR[10]:
1.
Memberikan informasi
tentang perkembangan
organisasi yang cukup
terhadap semua perangkat organisasi.
2.
Memberikan informasi
yang diperlukan oleh
pihak lain dalam
kaitan kebijakan organisasi,
kegiatan maupun kerjasama
organisasi dengan pihak
ketiga lainnya.
3.
Team pembuka
dalam mengadakan hubungan
kerjasama dengan pihak
lain
4.
Mengumpulkan
informasi untuk kepentingan organisasi
5.
Menjalankan
media sebagai bentuk
pelayanan informasi interaktif
dengan pihak lain
Bagian penting
dari pekerjaan petugas
PR dalam suatu
organisasi adalah[11]:
1.
Membuat kesan
(image) : kesan baik, citra positif
2.
Pengetahuan
dan pengertian: informasi, penerangan, penjelasan.
3.
Menciptakan ketertarikan
4.
Penerimaan
: pengertian dan
pemahaman
5.
Membangun dan
menciptakan simpati public
Aktivitas utama
PR[12]:
1.
Custumer Relations : menjalin hubungan
baik dengan konsumen.
2.
Employe
Relations : membangun hubungan baik
antara atasan dan bawahan
3.
Community Relations ; membangun hubungan
baik dengan masyarakat
sekitar lembaga dan
komunitas masyarakat tertentu
4.
Government Relations
: menjalin hubungan baik
dengan pemerintah
5.
Media Relations:
menjalin hubungan baik
dengan media massa/wartawan
Hal teknis seputar tupoksi
PR[13]:
1.
Menyediakan
dan mengelola media
internal
2.
Menyatakan selamat
kepada pemegang saham baru
3.
Menerbitkan berkala (newsletter) lembaga
4.
Menyampaikan laporan
tahunan
5.
Menjawab surat
pembaca
6.
Memantau pemberitaan
media massa
7.
Menguasai peraturan
pemerintah, termasuk UU pers
8.
Menyiapkan naskah/tulisan, video, dan menyebarkannya
9.
Membangun jaringan
dimedia social (facebook,
twitter, youtube)
Kode etik PR[14]:
1. Code of
conduct : etika perilaku sehari-hari
terhadap integrasi pribadi, klien dan majikan, media dan umum, serta perilaku
terhadap rekan seprofesi.
2. Code of profession : etika dalam melaksanakan tugas/profesi
PR
3. Code of publication : etika dalam
kegiatan proses dan teknis
publikasi
4. Code of
enterprise : menyangkut
aspek peraturan pemerintah
seperti hokum perizinan
dan usaha, hak
cipta merk dll.
Dari rincian
sebelumnya telah menggambarkan
bahwa organisasi media dan PR
adalah suatu kesatuan
utuh yang apabila
tidak dikorelasikan akan
menjadi suatu kerugian.
Kesenjangan organisasimedia dalam pemanfaatan PR
Tidak semua organisasi media memanfaatkan sepenuhnya
PR. Dalam rentan waktu
yang cukup lama PR
telah ada dimasing-masing organisasi media akan
tetapi tidak sepenuhnya PR
dalam media bekerja sesuai
prosedur yang sesuai standar. Dalam
keberadaannya PR hanya
sebuah formalitas tanpa
arah tujuan, tanpa
logistic yang memadai, dan
tak menerapkan kode
etik PR. System kehidupan
organisasi media tidak berjalan, sekalipun berjalan
hanya berjalan secara
lambat. Harapan dan
tujuan organisasi media tinggallah berwujud
angan-angan.
Melihat realita
pada era ini
posisi PR dalam
organisasi media tidak
diemban oleh para
profesionalitas PR. Para pejabat
PR dalam organisasi media hanyalah
praktisi yang tak
mempunyai dasar-dasar serta
ilmu PR sewajibnya, berharap
akan kesadaraan semua
organisasi media akan kinerja
PR takkan terwujud
jika PR yang
telah menjabat bukan
sosok professional.
Sampai saat
ini dibeberapa organisasi
media terlihat Tugas pokok
dan fungsi serta
manajerial tidak terealiasikan
dengan baik, hubungan
baik antara para
anggota media tak
sedikitpun Nampak, media
hanyalah sebuah wadah informasi dunia luar media yang
sesuai opini khalayak public, kegiatan dalam media
tidak terlihat dimata
masyarakat.
Jika kondisi
PR saat ini
dalam Organisasi media kita
khusunya Indonesia masih
begitu-begitu saja. Tak
ada kemajuan serta
perkembangan. Organisasi media
luar negri akan lebih
dikenal daripada organisasi media dalam
negri. Organisasi media kita
belum juga mampu
bersaing dikanca internasional, penjabat PR
kita tidak dapat
diandalkan dalam berbagai
macam persaingan, beberapa
organisasi media lebih memanfaatkan
pejabat PR yang
berasal dari luar
negri, pejabat PR
kita yang telah
menyelesaikan studi PR
kurang terpakai.
Kondisi pejabat
PR kita masih
kurang berkualitas jika
disandingkan dengan pejabat
PR luar negri
hal ini tidak
lahir semata-mata dari
kualitas sumber daya
manusia kita yang
masih dibawah dari
Negara lain melainkan
hal tersebut lahir
dari kurangnya logistic
serta organisasi media yang bertaraf
internasional yang lahir
dari Negara kita
indinesia.
Menanti pencapaian
yang sama dengan
organisasi media luar, kita
butuh proses yang
tak cepat masih
banyak yang perlu
dibenahi dalam metode
penyaluran ilmu PR
kita. Perlu dukungan dari
berbagai pihak dalam
peningkatan sumber daya
manusia kita dalam profesi PR
kita. Pihak yang
paling berperan penting
dalam peningkatan PR
kita adalah Organisasi media kita sendiri, organisasi media kita harus
mampu mendorong PRnya
untuk menjadi sosok yang
Profesionalitas dalam segi
peran, fungsi, keberadaan,
dan menerapkan kode
etik PR. Organisasi media
harus bekerja sama dengan
semua kalangan untuk
mengetahui kualitas PR.
Mengajak yang sudah
professional untuk melatih, memberikan pengalaman
dimedia berstandar diatas bagi
yang belum ahli, mendesain program
pelatihan PR agar
menghasilkan SDM yang
optimal, dan sebagainya.
Organisasi
lain yang juga berkaitan harus memiliki
komitmen dan langkah-langkah nyata
serta terobosan-terobosan baru
dalam peningkatan kualitas PR
Indonesia. Organisasi media yang
telah memiliki PR harus
lebih memanfaatkan, memberdayakan dan membimbing
anggotanya, melakukan pembibingan
dengan cara berskala
mengadakan latihan, seminar, perlombaan dan
sejenisnya. Organisasi media
juga harus berperan
melahirkan SDM PR
yang siap bekerja
sepenuh standar kompetensi
dan sertifikasi bagi
orang-orang yang akan
terjun dalam proyek
PR.
Daftar pustaka
Jalaludin
rakhmat 2008, psikologi komunikasi,
bandung:remaja rosdakarya
Juwito
2008 ,Public Relation, bandung:upn press
Lena
elitan & lina anatan 2007, manajemen
operasibandung: Alfabeta
Munaf.arif
lima peran humas dalam organisasi From:
notordinaryblogger.comdiakses
tanggal 29 april 2017
Onong.uchana
2008, dinamika komunkasi bandung: remaja rosdakarya
Rosady
ruslan 2012 manajemen public relation dan
media komunimkasi jakata: rajawali press
[1]
Juwito,Public Relation, (bandung:upn press, 2008) hal 2
[2]
Jalaludin rakhmat psikologi komunikasi (bandung:remaja rosdakarya,2009)
hal 131
[4]ibid
[5]Lena
elitan & lina anatan manajemen
operasi(bandung: Alfabeta,2007) hal 5
[6]
Munaf.arif lima peran humas dalam
organisasi From: notordinaryblogger.com
diakses tanggal 29 april 2017
[7]
Rosady ruslan manajemen public relation
dan media komunimkasi (jakata: rajawali press:2012) hal 12
[8]
Onong.uchana dinamika komunkasi (bandung:
remaja rosdakarya:2008) hal 211
[9]Ibid 36
[12]ibid
[13]ibid
[14]Ibid
Komentar
Posting Komentar
koment yang baik-baik